Senin, 22 November 2010

Vegetable Noodles of Botany Porch

About two weeks ago I see my sister who was hospitalized with dengue fever. It's also not a long visit to Bogor so many new places we had never attended.

Confused looking for places to eat in my hometown, we finally decided to stop by and look for a nice meal in the Botanical Square. Biggest mall in town this rains concept shopping center is a caring and friendly environment. With a botanical theme mall page diusungnya it was rather dense with a variety of plants on display in the parking lot. "The exhibition Flora Fauna" written at the entrance area.

We entered the main lobby. Wicak, the more closely watched than my cool, walked to a store. Veranda Botanical written as a store with a large IPB logo on the walls. There is a feeling of tingling feeling as a college alumni (cieh) to look briefly at the store that it did look interesting.
Woaah, rak yang saya tuju pertama kali tentu saja rak yang sarat dengan mie-mie yang berwarna-warni Saya bertanya pada Wicak, tertarik tidak membeli mie-mie ini. “Boleh,” katanya.
Saya memilih mie sawi organik yang berwarna hijau dan mie tomat yang berwarna kuning agak kemerahan. Selebihnya kami membeli sabun sereh, sebuah pewangi ruangan beraroma sereh, juga garam mandi aromaterapi untuk merendam kaki. Saya lupa berapa harga per itemnya tetapi total belanjaan saya sekitar 50ribu rupiah.
Kami akhirnya makan di sapo oriental mencicipi menu bebeknya. Seperti biasa anak-anak saya tidak bisa diam. Berlarian kian kemari sambil menarik-narik saya. Balita memang tidak didesain untuk duduk manis di depan meja sembari menghabiskan makanannya mungkin ya? Hehe ..
Tidak berapa lama mba dee rumahkayu datang. Kami memang ada janji untuk bertemu kebetulan saya ke Bogor. Tetapi sama seperti saat teh ani yang mampir ke rumah beberapa waktu lalu, bertemu dengan mba dee kami tak dapat mengobrol banyak juga karena keriweuhan dengan anak-anak yang ribut.
Mie sayur ini kami masak sepulangnya dari Bogor. Mienya memang tidak seenak mie instan dengan merek terkenal seperti Indomie tetapi dengan ‘janji’ bebas bahan pengawet, bebas bahan pengenyal dan bebas bahan pewarna -yang mungkin maksudnya bahan-bahan kimia- memang cukup menarik untuk dicoba.
Pada saran penyajian dianjurkan untuk merebus mie sekitar 5-7 menit. Saya yang tak terbiasa dengan takaran waktu jadi kurang memperhatikan. Mie saya jadi masih agak keras sehingga masih terasa rasa tepung yang kurang matang. Tetapi rasa bumbunya lumayan enak jadi agak meredam rasa mie yang kurang matang tersebut.
Bumbunya terdiri dari bubuk kaldu sapi dan bubuk cabai. Rasa cabainya memang terasa lebih menggigit dibandingkan dengan bubuk cabai dalam mie instan bermerek. Bubuk kaldunya sendiri terasa gurih tapi tak berlebihan.
From : http://masukdapur.blogdetik.com/2010/06/21/mie-sayur-dari-serambi-botani/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar